Mengapa Indonesia Membutuhkan Bank Gen
Setiap varietas lokal yang hilang dari sawah atau kebun membawa serta sifat yang mungkin tidak pernah kembali: ketahanan terhadap kekeringan, aroma yang khas, atau umur panen yang pas dengan musim setempat. Sumber Daya Genetik Pertanian hadir untuk memastikan kekayaan itu tidak lenyap. Di sini, benih, umbi, dan mikroba dari seluruh Nusantara disimpan dengan standar internasional, didokumentasikan, dan disediakan kembali bagi siapa pun yang membutuhkannya untuk penelitian dan pemuliaan.
Kedudukan dan Mandat
Sumber Daya Genetik Pertanian berkedudukan di BRMP Biogen (Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian), Kementerian Pertanian, dan berperan sebagai Bank Gen Nasional untuk sumber daya genetik (SDG) pertanian. Dalam kapasitas itu, Sumber Daya Genetik Pertanian memprioritaskan pengelolaan koleksi dasar (base collection) — simpanan jangka panjang yang tidak didistribusikan — di samping koleksi aktif (active collection) yang melayani kebutuhan penelitian sehari-hari.
Karena itu koleksi di Bogor mencakup duplikat dari koleksi SDG pertanian di seluruh sub-bank gen lingkup Kementerian Pertanian. Jika terjadi sesuatu pada koleksi di daerah, cadangannya tetap aman di sini.
Ruang Penyimpanan Benih
Mandat utama Sumber Daya Genetik Pertanian adalah melakukan koleksi dan konservasi SDG pertanian secara ex situ. Benih ortodoks disimpan di ruang dengan pengaturan suhu dan kelembapan yang ketat sesuai fungsi koleksinya.
Program Kegiatan
Lima tahap yang terintegrasi dan berkelanjutan memastikan setiap plasma nutfah tidak hanya selamat dari kepunahan, tetapi juga siap menopang program pemuliaan yang terus bergerak mengikuti tantangan zaman.
- Tahap 1
Eksplorasi dan Koleksi
Setiap varietas lokal yang hilang membawa serta jawaban atas tantangan pertanian masa depan. Bersama petani dan pemerintah daerah, kami mencari, mengumpulkan, dan meneliti varietas lokal serta kerabat liarnya, lalu mengamankannya sebelum terlambat.
- Sasaran eksplorasi
- sentra produksi dan daerah produksi tradisional; daerah terisolir, lereng gunung, dan pulau terpencil; wilayah suku asli dan pertanian tradisional; daerah yang menjadikan komoditas tersebut makanan pokok; daerah epidemik hama dan penyakit; serta daerah transmigrasi lama dan baru.
- Tahap 2
Preservasi / Konservasi
Materi yang terkumpul dijaga secara ex situ di Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor, dalam tiga bentuk yang saling melengkapi. Hasilnya cadangan nasional yang tetap hidup dan siap dipakai hingga puluhan tahun ke depan.
- Bank gen biji
- padi, jagung, sorgum, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, aneka kacang potensial (kacang tunggak, kacang gude, komak, kacang bogor, kacang koro), padi liar, dan terigu.
- Bank gen lapang
- ubikayu, ubijalar, ubi kelapa, talas, gembili, ganyong, garut, dan iles-iles; dipelihara di Bogor (koleksi inti ubijalar), KP Cikeumeuh, Bogor (ubikayu dan aneka umbi potensial), KP Pacet, Cianjur (ubijalar dataran tinggi), dan KP Citayam, Bogor (ubijalar dataran rendah).
- Konservasi in vitro
- sebagian aksesi ubikayu, ubijalar, dan talas di Laboratorium Kultur In Vitro sebagai cadangan bagi koleksi lapang.
- Tahap 3
Karakterisasi
Kami mengenali jati diri setiap aksesi: sifat-sifat penting yang bernilai ekonomi dan ciri khas yang membedakan satu varietas dari yang lain. Dengan begitu, pemulia dan peneliti tahu persis keunggulan yang ditawarkan setiap koleksi.
- Yang diamati
- karakter morfologis, agronomis, dan fisiologis, serta penanda isoenzim dan penanda molekuler.
- Tahap 4
Evaluasi
Kami melihat lebih jauh dari ciri yang tampak. Kandungan gizi diidentifikasi dan ketahanan varietas diuji terhadap berbagai cekaman. Dari sini ditemukan sumber gen bagi varietas yang lebih bergizi dan lebih tangguh.
- Kandungan gizi
- protein, lemak, vitamin, dan senyawa penting lainnya.
- Cekaman biotik
- ketahanan terhadap hama dan penyakit.
- Cekaman abiotik
- toleransi terhadap kekeringan, keracunan besi (Fe), keracunan aluminium (Al), kadar garam tinggi, dan lahan masam.
- Tahap 5
Dokumentasi Data
Data dan informasi karakteristik setiap plasma nutfah tersimpan dalam basis data yang terkelola baik dan mengikuti standar internasional. Basis data inilah yang membuka jalan bagi peneliti, pemulia, dan masyarakat untuk memanfaatkan kekayaan genetik pertanian Indonesia.
- Alur kerja
- inventarisasi data → transkripsi ke format baku → entri data → validasi terhadap sumber → penyusunan katalog tahunan → pengembangan aplikasi basis data.
- Sistem
- berawal dari Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian (SIPNP), kini dikembangkan menjadi basis data koleksi yang terhubung dengan Pusat Genom Pertanian Indonesia.
Introduksi dari Mitra Internasional
Selain eksplorasi di dalam negeri, koleksi diperkaya melalui introduksi materi genetik dari pusat-pusat penelitian pertanian internasional, sehingga pemulia Indonesia memiliki akses ke keragaman yang lebih luas.
- IRRI
- ICRISAT
- CIMMYT
- AVRDC (kini World Vegetable Center)
- CIP
- CIAT